WTI Turun di Bawah $74,00 karena OPEC+ Berencana untuk Mengurangi Pemangkasan Produksi Minyak

WTI Turun di Bawah $74,00 karena OPEC+ Berencana untuk Mengurangi Pemangkasan Produksi Minyak

  • Harga WTI melemah karena OPEC+ berniat untuk menghentikan pengurangan produksi sebesar 2,2 juta barel per hari hingga tahun 2025.
  • AS membeli tambahan 3 juta barel minyak untuk Cadangan Minyak Strategis negara tersebut.
  • Harga minyak mungkin akan terus melemah karena ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi lebih lama.

Harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) terus menurun selama lima hari berturut-turut, diperdagangkan di kisaran $73,90 per barel selama sesi Asia pada hari Selasa. Penurunan harga minyak mentah ini disebabkan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, mengumumkan rencana bertahap untuk mengurangi beberapa pengurangan produksi minyaknya.

OPEC+ berencana untuk menghentikan pengurangan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari (bph) selama setahun ke depan, dimulai pada bulan Oktober. Pada bulan Desember, lebih dari 500.000 bph diprakirakan akan kembali masuk ke pasar, dengan total 1,8 juta bph akan kembali pada bulan Juni 2025.

Menurut laporan Reuters, Amerika Serikat membeli tambahan 3 juta barel minyak untuk Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) negara tersebut, seperti yang diumumkan oleh Departemen Energi pada hari Senin. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penambahan secara bertahap setelah penjualan terbesar yang pernah ada pada tahun 2022. Presiden AS Joe Biden telah memerintahkan penjualan 180 juta barel selama enam bulan pada tahun 2022 untuk mengendalikan harga bahan bakar setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Data Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS terbaru menunjukkan bahwa tekanan harga mereda di bulan April. Meskipun demikian, laporan tersebut tidak mendorong penurunan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed), menunjukkan bahwa bank sentral itu mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai target inflasi. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif pada prospek ekonomi AS dan mengurangi permintaan minyak